Wednesday, July 20, 2011

Samapta dan Prestasi

Setelah menjalani pelatihan fisik selama kurang lebih 30 hari di barak, akhirnya ketiga orang itu lepas jua, dan kembali dengan wajah berseri, dan kulit hitam gosong. Masalah kulit inilah yang menjadi bukti bahwa bla bla bla telah ikut samapta haha.


Padahal tidak semua yang samapta itu selalu berhasil menghitamkan kulit, tetapi memang hanya satu dua, karena mungkin perlakuan tiap-tiap daerah berbeda-beda. Benar-benar warna hitam telah membuat mereka mereka itu lebih punya bukti otentik he, lebih mengukuhkan bahwa mereka telah samapta. Tapi tak masalah setelah semua usai dan hasil akan diraih.

Sementara itu saya teringat kawan sma... ga nyangka!

Prestasi yang Minim Atensi
Kompas(Selasa, 19 Juli 2011)
Berawal dari sebuah informasi yang didapatkan dari AUVSI, Asosiasi Kendaraan Tanpa Awak Dunia, yang berpusat di Amerika Serikat, Tim Roboboat Universitas Diponegoro Semarang mengikuti International Roboboat Competition, perlombaan tingkat dunia yang sudah diadakan sejak tahun 2007.

Kompetisi yang diikuti berbagai universitas ternama di dunia itu bertujuan mengembangkan kendaraan tanpa awak khususnya di bidang keamanan laut. Kompetisi diadakan di Pusat Keamanan Laut Amerika Serikat di Virginia, AS.

Pertengahan April, Tim Roboboat Universitas Diponegoro Semarang mendapat surat dari Association for Unmaned Vehicle Systems International (AUVSI) dan Office Naval Research untuk mengikuti perlombaan bergengsi tersebut pada 9-12 Juni 2011 di Pantai Virginia, AS. Persiapan untuk melakukan perjalanan panjang dari Indonesia menuju ke AS berlangsung singkat.

Persiapan bukan melulu mengenai administrasi yang cukup sulit untuk bisa masuk ke AS. Persiapan desain robot kapal pun menggunakan teknologi seadanya karena ternyata teknologi yang digunakan adalah autonomous system (sistem otomatis) yang belum berkembang di Indonesia, khususnya di bidang perkapalan. Pendanaan pun menjadi kendala karena dukungan dari pihak swasta maupun pemerintah yang tak ada. Sampai saat keberangkatan, tim sama sekali tak memiliki dana. Alhasil, selain berupaya merogoh kocek masing-masing, pihak univeritas memberikan dana talangan Rp 90 juta untuk mendapat tiket.

Jangkar Bumi

Tim Roboboat Undip melakukan persiapan selama kurang lebih 1,5 bulan meliputi berbagai hal, mulai persiapan administrasi hingga penyiapan robot yang akan dilombakan. Pokoknya, kami tetap bertekad terbang ke AS untuk mengikuti kompetisi tersebut.

Tim menyiapkan robot berukuran 80x50 sentimeter bernama ”Boat Jangkar Bumi”. Rangkaiannya memang amat sederhana, mulai dari fiber model kapal yang bermodalkan Rp 2,5 juta, dua kamera curt vision seharga Rp 600.000, dan sebagainya. Total biaya pembuatan robot sebesar Rp 15 juta.

Dengan kondisi itu, kami harus bertarung dengan tim-tim yang sangat tangguh bukan hanya dari segi teknologi, melainkan juga dukungan dari pemerintah, swasta, maupun perguruan tinggi yang memfasilitasi tim negara mereka. Terus terang kami sempat kurang percaya diri.

Kami harus bertemu dengan tim dari Virginia Tech, Rhode Island; National Cheng Kung University, University of Michigan Technology, dan lain sebagainya. Teknologi canggih serta dukungan pemerintah yang luar biasa mereka dapatkan. Bahkan, ada satu tim universitas yang menggunakan sensor berharga di atas Rp 30 juta.

Kami sempat dianggap sebelah mata sebelum menunjukkan kemampuan kami. Tim lain melihat kami hanya membawa robot kapal yang sebagian besar berbahan baku barang daur ulang. ”Kami sudah sampai di AS. Mau apa lagi? Kami tinggal berjuang secara maksimal. Menang kalah urusan belakang, yang penting kami mencoba sebaik mungkin,” pikir kami.

Tim Undip beranggotakan Ahlan Zulfakhri (Teknik Perkapalan), Tri Bagus Susilo (Teknik Elektro), Tri Adhi Yudistira (Teknik Mesin), Ogi Tri Dho Marogi (Teknik Perkapalan), Rahadian (Teknik Elektro), Ihsan (Teknik Elektro), Fatih Khamdani (Teknik Mesin), M Ansori (Teknik Perkapalan), Andi Pratama (Teknik Perkapalan).

Namun, kami hanya mampu memberangkatkan 5 orang karena keterbatasan biaya. Itu pun berawal dengan sangat pesimistis karena sampai sehari sebelum keberangkatan kami belum mendapatkan tiket serta dukungan dana. Tidak adanya pendanaan yang cukup juga menyebabkan para dosen pembimbing, yakni Eko Sasmito Hadi, Hartono Yudho, dan Imam Pudjo batal berangkat.

Inovasi

Perlombaan dilaksanakan dengan berbagai proses penilaian. Boat Jangkar Bumi mampu meraih posisi ke-12 dari 17 tim peserta lomba, memang bukan urutan yang maksimal. Namun, saat presentasi, banyak juri tertarik dengan desain kami karena simpel dan banyak inovasi.

Dengan hasil presentasi itu, tim mendapatkan kesempatan untuk melakukan misi berikutnya. Kemudian, kami mendapat kabar bahwa tim memasuki lima besar. Namun, kompetitor kami dari universitas kelas berat, seperti Michigan of University (juara 2010), Virginia Technology, Aerospace Design Lab Georgia Tech, dan National Cheng Kung University, tim yang sudah punya pengalaman di tahun lalu.

Memasuki final sama sekali di luar perkiraan kami. Berita gembira kami terima seusai makan siang. Ternyata, tim Univeritas Diponegoro Semarang dengan ”Boat Jangkar Bumi” memasuki putaran final. Tim hanya diberi waktu 20 menit untuk mempersiapkan semuanya.

Dengan waktu singkat kami berhasil melewati dua gate pada putaran final. Kami berhasil. Tim Undip mendapatkan tiga penghargaan sekaligus dalam 4th International Roboboat”. Penghargaan itu adalah untuk Best Innovation Design, Cost Performance, serta tempat keenam untuk penyelesaian misi.

Terbukti dengan semangat tinggi semua keterbatasan sebelum berangkat tak menjadi kendala berarti. Kami mampu mendapatkan penghargaan yang berlipat.

Ahlan ZulfakhriMahasiswa FakultasTeknik Perkapalan/ Team Leader Roboboat Universitas Diponegoro Semarang

Related Posts by Categories



0 comments :

Post a Comment

mohon koreksinya apabila salah (CMIIW), silahkan berkomentar dengan baik, penulis tidak bertanggung jawab atas apa yang anda sampaikan, jadi silahkan anda bertanggung jawab dengan apa yang anda sampaikan, terima kasih telah berkunjung, semoga bermanfaat [ baca disclaimer]