Sunday, June 30, 2013

Merasakan Bus Bumel non AC Bermesin Belakang

Bumel itu aslinya dari kata Boemelen kendaraan yang sering berhenti untuk menaikkan dan menurunkan penumpang, di Belanda sendiri menggunakan istilah Stop Trein untuk kereta yang pada setiap stasiun berhenti (kompasiana), bis bumel ini biasanya pintunya pun sengaja dibiarkan terbuka, kecuali yang memakai Air Conditioner (AC) harus ditutup. Yang saya tahu bus bumel itu semua memakai mesin depan, namun perjalanan dari Yogya ke Solo kemarin ternyata ada juga bumel yang memakai mesin belakang, sensasinya pun berbeda dari bumel-bumel yang bermesin depan.
Bisa jadi pas jaya jayanya atau pas masih muda dulu, si bumel ini berkasta tinggi, tapi karena suatu hal dijadikan kelas bumel ekonomi non AC oleh pemiliknya. Karena kalau dilihat kasta atau kelas tinggi Perusahaan Otobus (PO) sebagian besar menggunakan mesin belakang, jarang denger bis kelas tinggi semacam Eksekutif, Super Eksekutif, Big Top atau apalah namanya yang mesinnya depan,

Bus yang saya naiki ini dari PO Sedya Utama Yogya-Solo, konfigurasi seatnya 2-3, kalau lihat ke atas, atap bus ini terkesna polos saja, tidak ada tempat tas/atau lampu Light Emiting Diode (LED) yang berwarna-warni, hanya ada beberapa lampu neon putih berbentuk kotak di tengah, dan dua pintu darurat, pikir saya kalau mungkin ini bekas kasta tinggi, pasti ada bekas-bekas tempat televisi atau tempat tas, tapi ini malah tidak ada ya.

Soal suara pastinya senyap dan nyaman duduk di depan, walau tidak sesenyap yang AC, kalau ini kan pintunya dibuka, jadi deru mesin belakang masih lebih terdengar, selebihnya suara rem angin ces ces, kalau dah dengar rem angin gini serasa naik Patas Eksekutif hehe.
Lalu soal Stop and Go, menurut saya terbilang halus, walau busnya berhenti-berhenti tetap nyaman-nyaman aja, ga ngerasa pusing, atau mual. Tapi ini mungkin soal kebiasaan ya, atau bisa aja soal bawaan pak sopirnya.

Ventilasi letaknya di jendela bagian atas, jadi ga langsung kena badan penumpang, jadi silir, tapi ya itu tadi asap polusi tetap bebas keluar masuk kabin, mungkin ini kekurangannya hehe. Secara keseluruhan kalau bis ini saya kasih nilai dapat nilai B,nilai A buat bis mesin belakang ber AC, nilai B buat mesin belakang non AC, nilai C buat mesin depan ber AC, nilai D buat mesin depan non AC. Tapi kalau macet itu yang non AC nilainya jadi jelek semua.
Read More...

Wednesday, June 12, 2013

Penelitian Bank Dunia: Cukup Daftar dan Anda Dibayar

(artikel ini dicopas dari Tabloid Civitas Mei 2012)
Pada Senin (19/3), nampak antrean yang mengular di depan Gedung A . Pasalnya, dibuka registrasi untuk menjadi objek dalam eksperimen yang dilakukan Bank Dunia. Daya tarik penelitian ini adalah insentif yang diberikan pada objek eksperimen. Dengan melakukan registrasi saja—tanpa mengikuti eksperimen, peserta mendapat insentif sebesar 25ribu rupiah. Apabila ikut andil dalam eksperimen, jumlah yang diperoleh dapat mencapai 200ribu rupiah.
Bukan sembarangan, penelitian ini adalah salah satu jenis penelitian berbiaya tinggi. “Penelitian dengan eksperimen ini jarang karena biayanya mahal,” jelas Ridwan Galela, Kepala Subbidang Tatalaksana Pendidikan Akuntan, “Insentifnya diantaranya memberi honor kalau dia mengikuti eksperimen.”

Menurut Ridwan, Bank Dunia meminta STAN untuk menjadi fasilitator penelitian ini. “Ada surat permintaan dari World Bank Jakarta. Utusannya, Ibu Maria Tambunan datang ke sini, akan ada riset World Bank tentang efek remunerasi. Mereka membutuhkan lab komputer, juga dua ratus mahasiswa. Kemudian kita fasilitasi mereka,” terang Ridwan.

“Saat itu diumumkan bahwa kalau datang ada honornya. Kita bebaskan mahasiswa daftar. Kita bikin pengumuman, itu yang dikasih ke ketua kelas. Kemudian kita buka pendaftaran di Gedung A Pelayanan. Dalam waktu lima puluh menit, kuota sudah terpenuhi,” tambah Ridwan.

Peneliti yang berperan dalam riset ini adalah Dr. Syeheriar Banuri. Indonesia dipilih sebagai tempat penelitian tidak lain karena adanya reformasi birokrasi pada 2006. Saat ditanya tujuan risetnya, ia menjawab “The research agenda is to evaluate the bureaucracy reform in Indonesia, to see if it’s actually bringing about the changes that are supposed to happened.”

Teknik penelitian yang diterapkan adalah teknik eksperimental –yang disebut Syeheriar sebagai ‘game’. Eksperimen ini bersifat rahasia, selain peserta dan peneliti tidak ada yang mengetahui seperti apa gametersebut. Rotua Andriyati Siregar, asisten peneliti, menuturkan, “Pesertanya malah lebih tahu dari kita karena kita kan nggak boleh ikut ini,” saat ditanya tentang bentuk eksperimen.

Dalam game tersebut dilakukan analisis mengenai economic behavior, yakni menentukan besar proporsi investasi dan proporsi donasi. Yang menarik, keputusan tersebut adalah keputusan riil –jumlah yang disumbangkan dalam gamebenar disumbangkan di dunia nyata. Sumbangan yang dikumpulkan pada tiap sesi ini kemudian diserahkan kepada Palang Merah Indonesia. “Yang menarik, nyumbang sekian juta buat PMI. Tergantung peserta, kamu mau donasi berapa. Akan dipilih volunteertiap sesi, mereka akan dibawa ke bank bersama dengan asisten, biar ada saksinya,” terang Rotua.

Selama empat hari penelitian berlangsung, mahasiswa STAN telah menyumbang 25 juta untuk PMI.“They have donated about Rp25 million to Palang Merah Indonesia and that’s really impressive,” kata Syeheriar.

Mengenai kendala yang dihadapi selama masa riset, Syeheriar mengatakan bahwa tidak ada masalah berarti. Satu-satunya hambatan adalah mousedi lab komputer yang berbeda tipe, padahal penelitian ini mengharuskan mouse yang identik. “So I go to buy the mice,” katanya.

Terkait kesan terhadap STAN, Syeheriar mengatakan “But here (at STAN), has been full from the first day and it has been fantastic. I had budgeted two weeks to do this experiment but and I was done in four days! Best experience!” Hasil penelitian tersebut akan dipublikasikan dalam jurnal internasional Living Economic Journal, sekitar empat hingga lima tahun mendatang. [Hanifah Muslimah/Tendi Aristo]
Read More...

Samba Sunda yang Saya Suka

Samba Sunda – Sweet Dance, musik instrumen yang temponya tidak terlalu cepat, namun juga tidak terlalu lambat, kalau denger ini malah jadi inget game Age of Empire sambil bayangin disana bukan tentang cerita Babilonia, atau Persian, tapi ada Kerajaan Pajajaran dimasukin Age of Empire, dan instrumen ini yang menurut saya pas, terutama pas masuk menu sebelum masuk ke Game.
Samba Sunda – Tutunggulan, kalau instrumen ini pertama masuk seperti mendengar lagu dari daerah bali karena permainan gamelan balinya yang khas, namun setelah masuk disana ada juga terdengar alat musik tiup sunda, ditambah pukulan rebana yang ada kecreknya. Perpaduan yang selaras dengan irama sedikit lebih cepat dari Sweet Dance.
Samba Sunda One Shift With Z, instrumen yang ini punya awalan kendang, plus gamelan pokoknya sip, (y), selain itu yang mirip dengan ini yaitu Sabilulungan, mirp temponya dan ketukan kendangnya mirp.
Samba Sunda-Team Risk, yang paling suka instrumen ini karena ada kulintang yang terdengar renyah disepanjang musik dari awal sampai akhir dengan iramanya yang cepat.

Samba Sunda – Tongtolang Nangka, diawali dengan vokal rapnya, kalo ga salah denger bunyi rapnya “cing ciring ceripit......dst” ga ngerti soalnya bahasa sunda, hasilnya bagus, padahal kalo denger Tongtolang nangka yang lain malah ga ada rapnya, selanjutnya dengan irama yang aga mirip-mirp musik rege, lengkap dengan gitar, kalau ini bukan instrumen, tapi ada vokalnya, tongtolang nangka berarti nangka muda, isinya menceritakan Perkawinan.

Samba Sunda Sweet Talking wit juga bagus, temponya juga namun tetap memiliki irama yang bagus. Selanjutnya yang berjudul Koo’n Trunk juga tak kalah bagusnya, seperti perpaduan musik orkestra, dengan suara kulintang, kendang, seruling, dsb. Selanjutnya Tarabala juga sip,

Samba Sunda-Solali, kalau yang ini temponya tidak secepat Team Risk maupun Tutunggulan, tapi tetap terdengar enak, perpaduan kulintang, angklung, dan seperti biasa yang tak kalah adalah tabuhan kendang dan suling khas sundanya.
Samba Sunda di Kantun Tugas, juga bagus, tapi artinya apa ya ga tau, soalnya bahasa Sunda.
Read More...

Saturday, June 8, 2013

Soal Matematika Berhadiah Milyaran Rupiah

Langsung aja saya quote soalnya ya
Beal Prize Conjecture
If Ax + By = Cz , where A, B, C, x, y and z are positive integers and x, y and z are all greater than 2, then A, B and C must have a common prime factor.
[By way of example, 33 + 63 = 35, but the numbers that are the bases have a common factor of 3, so the equation does not disprove the theorem; it is not a counterexample.]
. btw apa maksud arti positive integers, common prime factor?
Jika Ax + By = Cz ,
A, B, C, x, y dan z adalah bilangan asli
x, y dan z semuanya lebih dari 2,
A, B and C must have a common prime factor.
[CONTOH, 33 + 63 = 35,
but the numbers that are the bases have a common factor of 3, so the equation does not disprove the theorem; it is not a counterexample.]<=ini artinya apa ya, kurang paham



Positive integers itu bilangan asli mulai 1,2,3,... (tidk boleh pecahan)
common prime factor maksudnya, misalnya 28 factornya prime factornya 2,2,7, sedangkan 12 prime factornya 2,2,3, jadi 2 adalah common prime factornya 28 dan 121, prime factor, faktor bilangan prima, bilangan prima adalah bilangan yang hanya habis dibagi satu dan bilangan itu sendiri. dah ah pusing...hihi
mungkin ada yang bisa? infonya bisa lihat disini
Read More...

Gowes Bike : Biang Keladi Rem Tidak Pakem

Pada jenis rim brakes atau rem yang terletak di velg, saat menekan handle rem maka kabel rem dari handle stang akan tertarik, gaya tarik ini diteruskan melalui kabel rem sampai kampas sehingga menjepit velg roda, mengakibatkan laju roda sepeda melambat. Namun pada sepeda Federal saya, saat handle rem ditarik, ternyata gaya tarikan yang sampai di velg sangat kecil, alias kurang pakem. Ini kenapa ya padahal rem depan pakem, tapi rem belakang kok ga pakem?
Okelah memang sepeda saya umurnya uda ga baru lagi, jadi mungkin kabelnya yang kendor, lalu kabel rem dikencangkan bahkan pembungkus kabel di bagian belakang yang berwarna hitam itu saya potong agar lebih pendek, namun hasilnya nihil, kalo bukan ini, saya pikir masalah pada kampas, saya coba setting kampas baik kiri dan kanan, namun masih juga tidak bisa, sayapun angkat tangan, menyerah, sepedapun dibawa ke bengkel.

Sampai dibengkel sepeda, oleh tukangnya, kabel pembungkus tadi ternyata dipendekin lagi, walah sama kaya saya tadi dong, tapi dilihat dulu mungkin kali ini lebih bisa, positif thinking hehe, kabel pun dipotong memakai tang, terus dipasang pasang, jadilah, mak jreng trus dicoba, hasilnya? Masih ga pakem sodara, akhirnya tukangnya ikut nyerah, Saya pun pulang dengan tangan hampa, tanpa membawa hasil apa-apa, haha. Akhirnya setelah dipikir-pikir, terbesit pikiran untuk mengganti kabel remnya saja dengan yang baru, dari sinilah keliatan biang kerok masalahnya.

Rem Federal punya saya ini, pembungkus kabel rem yang berwarna hitam itu ternyata desainnya terpotong menjadi dua bagian, (liat gambar dibawah)

jadi mulai dari handle rem sampai batang rangka kabel terbungkus, lalu kabel direntangkan kencang melewati rangka sampai bawah, dari bawah sampai bagian rem di velg, kabel terbungkus lagi, jadi inti masalahnya sebenarnya gaya tekan dari handle rem, terbuang sia-sia sepanjang kabel tadi, karena itu tadi, gara-gara pembungkusnya terbagi dua, terbukti setelah saya pasangkan kabel rem yang pembungkusnya tidak saya bagi, gaya tekan dari tangan bisa tersalurkan dengan baik sampai di bagian velg rem roda belakang. Ini juga sebabnya rem depan bisa lebih pakem, kareng pembungkusnya juga tidak dibagi-bagi.

Kabel rem saya rentangkan dari handle rem sampai di bagian velg rem, agar kabel melekat pada rangka, kabel direkatkan dengan lakban, dan ternyata itu cukup bagus juga untuk merapikan kabel rem ini.

Soal dibagi-bagi mungkin saja kesannya biar sepeda keliatan sporti dan ringan kali ya, kalau masih baru sih Ok saja, tapi kalau sudah ga baru ternyata bisa membuat repot, apapun jenis remnya mau yang rim brake, drumb brake alias tromol, atau rem cakram yang keren, kalau media kabel rem sebagai penghantar gaya tekannya bermasalah, remnya juga akan bermasalah, oleh karena itu bagi Goweser penting juga memperhatikan bagian ini.
Read More...